Artikel populer _ Inwan Rosadi

 MENJAGA KEBERSIHAN GUNUNG SEMERU


Gunung Semeru merupakan gunung berapi aktif tertinggi di Pulau Jawa, dengan ketinggian mencapai 3.676 mdpl. Gunung aktif bertipe stratovolcano ini selain memiliki keunikan dapat meletus atau erupsi dalam radius kecil tiap 20 menit sekali, Gunung Semeru juga memiliki pesona alam yang sangat mempesona berupa danau Ranukumbolo dan Savana Oro-oro Ombo sehingga menjadi salah satu lokasi pendakian favorit di Indonesia.      Gunung Semeru mengalami kepopuleran di kalangan anak muda beberapa tahun belakangan ini. Kegiatan pendakian gunung sepertinya tidak lagi menjadi kegiatan yang terbatas. Aktivitas ini tidak hanya dilakukan oleh kelompok tertentu yang mengklaim dirinya pecinta alam dan sejenisnya Sebelum tahun 2013 jumlah pendaki Gunung Semeru antara 50-100 orang pendaki setiap hari. Pada saat perayaan 17 Agustus 2014 mencapai 3000 orang pendaki. Begitu juga dengan gunung-gunung lain di Indonesia juga mengalami jumlah kenaikan pengunjung. Ayu Dewi Utari (Kepala TNBTS). Hal ini juga ditambah dengan tayangnya film 5cm, karya Dhony Dirgantara dan disutradarai Rizal Mantovani pada tahun 2012. Film 5cm memperlihatkan keindahan pesona alam gunung Semeru kepada penonton tanpa menampilkan edukasi pada saat melakukan pendakian. Pesona alam gunung Semeru cukup memberi warna tersendiri bagi kalangan pendaki dan warga desa Ranupani, termasuk pihak pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Resort Ranupani. Pun demikian dengan perubahan kondisi lingkungan di Semeru terkait sampah para pendaki. Pada tahun 2014 awal terbentuknya Saver (Sahabat Volunter Semeru), bermula dari keprihatinan komunitas pecinta alam dari Lumajang, Malang, serta daerah lainnya. Pendaki semakin kurang peduli terhadap kelestarian alam terutama sampah yang mereka timbulkan selama pendakian. Saver Semeru memberikan edukasi tentang pendakian gunung dan memasukkan nilai-nilai konservasi, budaya, sejarah, adat dan yang utama adalah standart operasional prosedur saat pendakian sebagai materi brifing.       

Brifing pendakian merupakan kesepakatan bersama antara pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan Saver Semeru agar pendaki memahami segala informasi tentang kawasan. Selama proses brifing berlangsung, pihak SAVER Semeru menyampaikan informasi terkait kawasan, jalur, barang bawaan, estimasi waktu, peraturan, kearifan lokal hingga insiden yang sering kali menimpa para pendaki. Kegiatan brifing juga memposisikan masyarakat lokal sebagai bagian penting dari kawasan, karena yang berhak memberikan sanksi pada pendaki yang menyalahi aturan adalah petugas dan masyarakat lokal. Edukasi di setiap brifing ini merupakan salah satu langkah pencegahan agar pendaki lebih peduli terhadap kondisi lingkungan di Semeru dan untuk mengurangi angka kecelakan di gunung Semeru. Sebab, tidak semua orang yang mendaki ke Semeru saat ini berasal dari komunitas pecinta alam. Seperti halnya komunitas Traveler Minim Dana (TMD). Komunitas TMD terbentuk karena keisengan dua orang yang suka naik gunung dan ingin menambah teman dan saudara untuk mendaki gunung. Komunitas Traveler Minim Dana terbentuk pada tahun 2015 yang beranggotakan 6 orang, namun sekarang pada tahun 2020 anggotanya sudah mencapai 38 orang. Anggota komunitas TMD tersebar di beberapa kota di pulau Jawa. Hal ini dikarenakan komunitas ini sering mengadakan trip dan mencari teman sependakian. Tujuan dari komunitas ini yaitu memperbanyak kawan, berbagi ilmu, membuka jaringan, sebagai pusat informasi, dan aksi sosial. Komunitas Traveler Minim Dana juga sudah banyak melakukan pendakian ke gunung-gunung tertinggi yang berada di Indonesia terutama di Gunung Semeru dan mengikuti brifing sebelum pendakian gunung.     Namun berdasarkan fakta di jalur pendakian dan kawasan gunung Semeru masih banyak pendaki yang kurang menyadari tentang menjaga kelestarian lingkungan meskipun sudah mengikuti brifing sebelum melakukan pendakian. Masalah ini terjadi sebab perilaku para pendaki gunung Semeru yang kurang menyadari akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Masih banyak sampah yang tergeletak di sepanjang jalur dan kawasan, beberapa papan petunjuk dan papan peringatan terdapat coretan. Banyak persoalan muncul karena para pendaki dan pengunjung kawasan gunung Semeru yang tidak sadar akan pentingnya menjaga lingkungan wisata alam. Kesadaran pendaki mencakup beberapa faktor seperti sesuai apa yang pernah dilakukan pendaki sebelumnya yang penting untuk menjaga lingkungan wisata agar tetap bersih, karena dengan hal tersebut, pengunjung bisa mengerti apa yang harus dilakukan dan hal yang harus dihindari yang mempunyai tujuan untuk menghilangkan dampak kerusakan lingkongan yang terjadi. Menurut latar belakang yang dijelaskan di atas maka peneliti memutuskan membuat judul Resepsi Pendaki Pada Penyampaian Materi Brifing Tentang Pentingnya Menjaga Kelestarian Alam Gunung Semeru 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISIS || M. INWAN

Artikel populer yesy

Artikel Populer by Sukron Makmur